Welcome :)

Berani menggempur untuk kebenaran dan perubahan

Sabtu, 24 Juli 2010

Anak Bunga

Umumnya orang menjepit bunga diantara halaman buku untuk menjadikannya sebuah benda kenangan. Tetapi Ibu sayatidak percaya dengan cara membuat kenangan seperti itu.

Semboyannya adalah, "Jangan menjepit bunga di halaman buku! Kapan kalian
akan menikmati keindahaannya saat sudah tersembunyi di rak buku? Biarkan bunga itu tumbuh! Nikmati keindahannya sebagai sebuah bunga yang hidup, bukan bunga kering yang tersembunyi di antara halaman buku."

Itulah ibu saya. Memang ibu mempunyai tangan dingin yang membuat tumbuh apa saja yang ditanam.

Barusan, ibu menerima sebuah buklet bunga yang indah
dari saudaranya di hari ulang tahunnya. Ibu adalah seorang pecinta bunga dan sangat senang karena menemukan dua bunga mawar dengan corak yang khusus. "Lihat bungamawar cantik ini. Ibu tidak pernah melihat mawar dengan corak seindah ini. Ibu harus menyimpannya sebagai kenang-kenangan."

Saya sudah sering melihat proses ini, tetapi tetap saja saya kagum jika melihatnya. Ibu mengambil sebuah mawar dan memotong tangkainya membentuk sudut dengan gunting, membungkus ujungnya dengan handuk kertas yang basah dan meletakkan bunga itu di dalam kantung plastik untuk menjaga kelembabannya.

Berikutnya adalah giliran saya. Saya akan membuat sebuah keajaiban. Saya berlari ke dapur untuk mengambil sebuah guci kaca yang biasa digunakan untuk melindungi bunga.

"Ini guci kaca yang cantik," kata saya saat kembali sambil membawanya dengan hati-hati.

Kami keluar menuju ke semak bungur di samping rumah. Saya membawa guci kaca dan plastik berisi bunga mawar. Ibu membawa air hangat di sebuah termos kopi, dan dengan hati-hati menyirami semak bungur di depan kami. Ibu telah memotong semak bungur itu menjadi tebal dan padat. Setelah disiram, tanah di bawahnya menjadi lembab dan hangat, sehingga ibu bisa menggalinya dengan mudah menggunakan tangan dan memasukkan batang mawar yang sudah dipotong ke dalamnya. Saya membantu ibu membersihkan tanah di sekitar batang mawar. Selanjutnya ibu menutupkan guci kaca de bunga mawar, menekan dan memutar ke tanah, sehingga guci itu memiliki dudukan yang kokoh.

Akhirnya ibu memberi minum mawar itu dengan menyiramkan kembali air hangat dari termos kopi ke dasar guci kaca. Ibu berbisik, "Oh bunga kecil, biarkan ibu menghangatkan kakimu. Ini akan membuat kamu aman terhadap tiupan angin dingin. Sampai jumpa lagi di musim semi, bunga kecil."

"Bunga kecil ini sudah siap untuk memulai tidur panjang selama musim dingin," ibu menjelaskan saat kami kembali masuk ke dalam rumah.

Ibu termasuk orang yang enggan saat harus minta bunga kepada seeorang di halaman rumah mereka. Tetapi setahusaya tidak ada yang pernah menolak permintaan ibu tersebut. Bahkan sebaliknya mereka akan senang hati memberikannya, karena mereka tahu ibu adalah seorang pecinta bunga dan ahli dalam merawatnya.

Hari itu adalah musim panas yang indah. Saya dan ibu berjalan melewati tetangga kami Dorothy yang sedang berkebun. Ibu berhenti untuk mengagumi bunga yang tumbuh di sana.

"Saya tidak pernah melihat bunga
Lavender seindah itu. Ujung daun bunganya bercampur warna perak. Apakah sayaboleh minta satu?" ibu bertanya pada Dorothy. Dengan bangga Dorothy memotong sepucuk bunga yang paling indah dan memberikannya pada ibu. Tetapi sesampai di rumah, bunga Lavender cantik itu tidak diletakkan ibu di vas bungaseperti yang mungkin dibayangkan oleh Dorothy. Bungga Lavender cantik itu bergabung dengan bunga-bunga cantikyang lain, terlindung di dalam guci kaca di bawah semak bungur di samping rumah.

Saat Natal tiba, Dorothy berkata bahwa tanaman bunga Lavendernya terserang penyakit dan tidak bisa diselamatkan. "Itu bunga kesukaan saya," katanya dengan sedih, "dan saya tidak akan bisa menemukan penggantinya."

Tahun ini musim semi agak terlambat datang, tetapi akhirnya ketakutan akan salju yang membekukan berakhir juga. Ibu sudah tidak sabar untuk membuka penutup bunga-bunga, yang masing-masing terlindung di dalam sebuah miniaturrumah kaca.

"Berapa banyak dari bayi bunga yang akan siap memulai hidup baru mereka ya?" ibu merenung.

Seperti biasanya, saya melihat dengan kagum saat ibu membuka penutup dari bunga-bunga itu. Pelan-pelan ibu mencabut guci gelas dari tanah yang hangat: yang berisi bunga Lavender dibungkus plastik. Apakah bunga itu akanhidup kembali? Terlihat di tangkai bunga itu ada sebuah tonjolan, sebuah daun yang mungil tersembul keluar di bawah tangkai bunga. Ya, bunga Lavender itu sudah hidup dan tumbuh kembali !

Ibu berbisik padaku, "Tunggu sampai musim panas, dan ibu akan memberi kejutan pada Dorothy. Ibu akan merawat bayi Lavender ini sampai tumbuh menjadi tanaman subur yang cantik. Dorothy akan punya tanaman Lavendernya lagi. Kamu harus merahasiakan hal ini dulu."

Dan benar, saat musim panas, Dorothy berteriak kegirangan saat menerima kejutan ini - sebuah tanaman bungaLavender yang subur dan cantik.

Ada kartu kartu yang tergantung di tangkai tanaman bunga itu, dengan tulisan :

"Ini adalah sebuah pemberian kecil dari halaman rumah untukmu.
Dimulai pada suatu hari saat seseorang memberikan sebuah bunga yang cantik untukku."

"Aku menanam bunga itu di tanah yang subur dan hangat.
Merawatnya - dan melihatnya tumbuh dengan gembira"

"Saat kamu mananamnya kembali dan tumbuh dengan indah,
untuk mengembalikan siklus hidupnya,
apakah aku boleh mengaguminya lagi?"

"Jika aku memberanikan diri, apakah kamu bisa menduganya,
saat aku minta bunganya yang mekar pertama kali?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar